Home / Music / DEWA SUGAMA, ANUGRAH TERINDAH ADALAH MENJADI SEORANG AYAH

DEWA SUGAMA, ANUGRAH TERINDAH ADALAH MENJADI SEORANG AYAH

Dewa Sugama, seorang penyanyi solois pop yang eksis memulai karier musiknya di tahun 2010 an, mempunyai segudang cerita menarik dalam perjalanan hidupnya. Ada sebuah fakta unik dibalik karier musik dari penyanyi asal Gianyar ini. “Hal yang paling dibenci oleh Dewa Sugama sejak kecil ternyata adalah menyanyi”.

Lha.. Koq bisa??

Iya, hal yang paling saya benci sejak SD hingga SMP dan SMA adalah menyanyi. Saya sering sekali mendapatkan bully karena suara saya serak. Temen – temen suka mengejek dan membully ketika tau kalo suara saya ga seperti orang pada umumnya.

Temen – temen suka meniru suara saya yang serak ga jelas. Mungkin bagi orang yang mengejek tersebut merasa seneng tapi bagi saya sangat menyakitkan. Sampai kadang merasa pesimis diri.

 

Lalu gimana akhirnya malah bisa jadi penyanyi?

Waktu sekolah saya memang paling ga suka pelajaran nyanyi, tapi  saya sangat  suka main gitar dan punya band. Dulu masih suka mainin lagu orang, saya main music punk, rock, dan aliran music lainnya tapi memang ga main lagu pop seperti sekarang.

Lalu apa yang mendorong Dewa untuk makin menggeluti dunia tarik suara?

Saya pernah membaca biografi perjalanan karier musisi dunia seperti Elvis Presley yang awal kariernya dianggap penyanyi dengan gaya aneh ditempat dia bermain music di sebuah Bar,  atau Ed Sheeren  yang ternyata  memulai main music dengan perjuangan dan  pembulian, namun mereka tetap maen music secara konsisten karena itu passion mereka dan ternyata mereka sekarang membuktikan diri menjadi pemusik yang handal

Lalu saya mulai berpikir, kalo mau serius menekuti bermusik, saya harus bisa menemukan karakter saya sendiri. Walaupun passion music atau sekeren – kerennya kita main music tapi masih cover lagu orang lain, kita belum jadi diri kita sendiri. Keren itu ya nyanyiin lagu kita sendiri .

Suatu hari saya pernah diajakin sama temen buat jadi model di video clip Bali. Nah pas editing klipnya saya ngumpul disitu dan ga sengaja nyanyi lagu yang saya bikin pada saat kuliah dan didenger sama temen dan ditawarin sama temen itu  buat coba rekaman.

Waktu itu lagunya single pertama saya “saat kau mendua” jujur saya merasa sangat ga pede karena waktu itu jaman band indie dan mungkin di Bali ga ada solois indie dengan lagu bahasa Indonesia. saya merasa aneh sendiri tapi berbekal keyakinan saya coba bawa ke beberapa radio dan astungkara music dan lagu saya bisa diterima, malah menjadi top chart di beberapa radio. Ini tentu  jadi kebangaan luar biasa bagi saya. Dan ga saya sangka malah jadi lagu terbanyak di request sepanjang tahun.

 

 

Apa yang paling membuat Dewa bangkit sampai saat ini?

Ternyata orang sukses itu bukan karena cuma pinter tapi karena rajin dan sisanya adalah nasib. walaupun dulu  Sering menerima ejekan tapi saya bisa bales dengan pembuktian dan prestasi. Sekarang saya buktikan  dan astungkara udah ada 3 single “ Saat kau mendua, Buat mu Bahagia  dan yang terakhir ini “Doa Ayah Bersama mu”

 

Apa yang menarik dari single terakhir ini?

Saya udah pernah buat lagu cinta, lagu untuk orang, sekarang untuk moment  terindah dalam hidup saya adalah menjadi seorang ayah. Lagu Doa Ayah Bersama mu memang lagu yang sengaja saya buat untuk anak saya tercinta Dewa ayu alindya nada Sugama.

Saya biasa captain lagu pada setiap moment tertentu dan saat ini saya sebagai musisi pengen kasi kado terindah buat anak saya. Saya pikir kalau saya kasi mainan mungkin akan rusak atau hilang, saya ingin sekali lagu ini bisa dikenang seumur hidupnya dan sebagai tanda cinta terindah. Dan menjadi tanda sayang dan doa yang saya kasi terlantun dalam sebuah lagu ini.  Video clipnya pun Cuma berisi clip show anak saya dari lahir sampai sekarang.

 

Apa pelajaran berharga yang Dewa Sugama dapat saat jadi seorang ayah?

Kita dulu mungkin boleh “beler” tapi suatu saat seorang cowok akan menjadi ayah yang bisa memberi tau hal yang bener kepada anaknya.

 

 

Seorang ayah harus jadi Role model yang bisa menjadi contoh terbaik bagi anak – anaknya. Seperti quote yang bilang “ga ada yang bisa mencintai seorang gadis setulus ayahnya.  Nama Dewa ayu alindya nada Sugama juga sengaja saya berikan ke anak karena ga pengen jauh dari music dan dia adalah nada terindah saya. Dan anugrah terindah yang diberikan tuhan kepada saya.

 

Apa hal terindah menjadi bagian dari keluarga besar Dewa saat ini?

Saya dari Desa Sanding Gianyar, dulu kakek nenek saya buta huruf dan ayah saya punya perinsip kalau punya mimpi yang besar ya harus dikejar. Walaupun kita dari kampung bukan berarti kita ga bisa maju.

Banyak hal besar yang saya pelajari dari sosok ayah saya. Prinsip saya kalau doa tanpa usaha adalah kebohongan dan usaha tanpa doa adalah kesombongan.  Dulu orang tua akhirnya naik sepeda gayung ke Denpasar untuk kuliah  hukum  karena beliau pengen sekali jadi seorang jaksa tapi impiannya ga terwujud namun  akhirnya dia jadi dosen hukum di Unud.

Jadi waktu itu ayah saya sambil kuliah jadi tukang bangunan dan seiring waktu karena sering ambil kerjaan itu , akhirnya jadi punya keahlian dan suatu ketika memberanikan diri ambil borongan.

Dari sana akhirnya punya tabungan dan membeli lahan di daerah legian dan sampai akhirnya bisa mendirikan Dewa Barata Bungalows. Saya percaya Tuhan pasti memberikan rejeki kepada pekerja keras.

 

Apa yang membuat Dewa juga engikuti jejak sang ayah menjadi seorang Dosen?

Nah karena impian ayah saya dulu ga terwujud jadi seorang jaksa, saya kemudian disarankan oleh ayah  untuk  jadi hakim  tapi saya ga mau karena merasa passion saya di music.

Saking cintanya dengan dunia music sampai saya pernah coba main ke Jakarta di rumah joseph manurung (sound Engeneer Artis Nasional) disana saya tanya – tanya  tentang perkembangan music nasional, saya ingin selalu menekuni dunia music. Tapi saya akhirnya balik lagi ke Bali karena saya piker memang harus memulai secara bertahap.

Sampai suatu hari ayah saya  bilang lagu saya bagus dan saya sangat bahagia karena mendapat pengakuan dari orang terdekat (keluarga). Itulah yang membuat ayah saya juga akhirnya tidak kukuh untuk memaksakan saya menjadi seorang jaksa. Namun saya kembali berpikir selama ini saya kuliah bukan buat gensi semata atau gelar.  lama – lama saya mikir kalo kuliah ga dipakai ilmunya juga percuma, maka ayah saya membuka pemikirannya dan  menyarankan untuk jadi dosen yang penting ga ganggu waktu main music.

Awalnya jadi dosen saya sempet ngerasa ga pede karena memang sama sekali ga ada pengalaman di bidang itu, tapi seiring berjalannya waktu saya malah enjoy dan menemukan passion saya di bidang berbeda yaitu menjadi dosen Hukum.

 

Apa yang menjadi kesimpulan perjalanan music dari Dewa?

Biarkan orang mengejek, yang penting tetep yakin pada diri sendri, tetep lakukan passion kita dan jangan jadi followers karena ketika kita konsisten suatu hari orang – orang lah yang akan mengikuti kita.

Yang penting kita konsisten mempertahankan karakter kita, sampai sekarang saya  masih konsisten untuk main akustikan kalaupun nanti ada gendre music baru muncul,saya ingin tetep konsisten seperti inikarena inilah Dewa Sugama (gun)

About Balisoulmate