Home / News / Tradisi Mebuug-buugan 2017 diikuti oleh 6 Sekaa Terun Teruni.

Tradisi Mebuug-buugan 2017 diikuti oleh 6 Sekaa Terun Teruni.

Bukan hanya Desa Sesetan yang memiliki tradisi yang cukup unik. Desa adat Kedonganan pun nyatanya memiliki tradisi yang tidak kalah unik dari tempat lainnya di Bali, namanya mebuug-buugan tradisi yang pernah pepuler di masa penjajahan Jepang tersebut diadakan tepat sehari setelah dilangsungkannya hari Suci Nyepi atau Ngembak Gni.

Mebuug-buugan merupakan sebuah tradisi dari Desa Adat Kedonganan ini merupakan sebuah upaya untuk melakukan pembersihan diri. Mebuug-buungan adalah sebuah tradisi bermain lumpur, dimana peserta yang didonimasi oleh Sekaa Teruna Teruni (STT) tersebut akan melumuri tubuh mereka dengan lumpur.

I Made Budhyastra selaku Ketua Sekaa Teruna se-Desa Adat Kedonganan menjelaskan tradisi mebuug-buungan itu sendiri memiliki sebuah filosofi untuk membersihkan rohani dan jasmani. “maknanya sih untuk membersihkan jiwa dan raga”. Ucapnya saat ditemui dilokasi.

Acara yang digelar pada 29 Maret 2017 itu diikuti sekitar 1000 orang dari 6 STT yang ada di kelurahan Kedonganan. Peserta memoleskan lumpur ke tubuh mereka sebagai tanda raga dan jiwa mereka yang masih kotor setelah itu mereka akan membasuhnya dengan air.

Tidak sekedar melumuri diri dengan lumpur, ada arti tersendiri yang bisa diambil dari tradisi unik tersebut, dimana peserta melumuri tubuh mereka dengan lumpur di kawasan Mangrove yang notabene letaknya di sebelah Timur Desa (digambarkan sebagai makna matahari terbit) dan tempat untuk membasuh tubuh mereka di Pantai Pemeliasan yang letaknya berada di sebelah barat Desa (yang dimaknai tempat terbenamnya matahari)

Dengan kata lain lumpur itu merupakan perumpaan sebagai perlambang keburukan yang dibuat, kemudian masyarakat menutupnya atau membasuh keburukan untuk ke depannya.[GAN/TB]

Foto by Anggara Giri

About Balisoulmate

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*